logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sejarah dan Pesona Pasanggrahan Donggo

Sejarah dan Pesona Pasanggrahan Donggo

KM Wadupa’a: Terletak pada ketinggian 8 hingga 15 kilometer dari permukaan laut dan pemukiman warga yang berjejer seakan menyatu dengan alaminya

Wisata Sejarah

Sejarah dan Pesona Pasanggrahan Donggo

Sejarah dan Pesona Pasanggrahan Donggo

fachrunnas aps
Oleh fachrunnas aps
23 Desember, 2013 20:51:46
Wisata Sejarah
Komentar: 0
Dibaca: 6149 Kali

KM Wadupa’a: Terletak pada ketinggian 8 hingga 15 kilometer dari permukaan laut dan pemukiman warga yang berjejer seakan menyatu dengan alaminya suasana pegunungan. Itulah Kecamatan Donggo yang berada di puncak bagian barat Kabupaten Bima, menyimpan berbagai potensi, terutama potensi sejarah, agraria dan  pariwisata budaya yang tak kalah mempesona dengan daerah lain.

Salahsatunya pesonaa itu adalah pasanggrahan yang berada didesa O’o. Pasanggrahan artinya tempat persinggahan sementara. Dibangun oleh Sultan Muhammad Salahuddin pada tahun 1936, setelah ASI dan pasanggrahan Wawo didirikan. Dengan mengambil arsitektur bangunan Belanda pada jamannya.

Bangunan yang terdiri dari 4 kamar dan 1 aula tersebut, dulunya dijadikan tempat peristrahatan sementara dan pertemuan bagi raja dan pejabat Pemerintah Belanda. Pada tahun 2013  direnovasi oleh pemerintah Kabupaten Bima dengan memasang kawat besi penyangga di setiap sisi bangunan agar bangunan tahan gempa dan sedikit sentuhan kuas untuk interiornya. 

Tidak bergeser dari fungsinya semula, pasanggrahan masih digunakan sebagai tempat pertemuan-pertemuan penting, misalnya pertemuan masyarakat dengan Kepala Daerah. Selain itu, pasanggrahan Donggo juga menjadi alternatif tujuan wisatawan domestik untuk menikmati pesona alam, terutama masyarakat perkotaan. Mereka menghabiskan akhir pekan dan liburan dengan mengunjungi pasanggrahan untuk piknik dan berfoto.

Untuk menikmati sunrise (matahari terbit) yang begitu memanjakan mata, pengunjung tak perlu kuatir, pengelola sudah menyediakan jasa penginapan bagi pengunjung yang ingin bermalam. Pengunjung hanya menyediakan Rp30 ribu, namun tanpa pelayanan konsumsi. 

Baca Juga :


Persoalan dihadapi paanggaran Donggo,  minimnya ketersediaan air bersih untuk pengunjung. Bertambanya populasi penduduk menjadi penyebabnya. Aliran air yang dulunya hanya diperuntukan bagi passanggrahan, kini sudah menjadi konsumsi warga sekitar. Gundulnya hutan dan pembakaran lahan yang dilakukan  petani berimbas pada berkurangnya debit air di kecamatan tersebut. (AH)




 
fachrunnas aps

fachrunnas aps

citizen journalist, menyuguhkaan informasi seputar wilayah Soromandi

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan