logoblog

Cari

Tutup Iklan

Peninggalan Jepang di Tanjung Ringgit

Peninggalan Jepang di Tanjung Ringgit

PENINGGALAN JEPANG TANJUNG RINGGIT Indonesia kaya akan nilai historis dan peninggalan – peninggalan bersejarah. Mulai dari bangunan – bangunan kuno, bukti –

Wisata Sejarah

KM Masbagik
Oleh KM Masbagik
07 Mei, 2015 13:52:36
Wisata Sejarah
Komentar: 0
Dibaca: 59361 Kali

Indonesia kaya akan nilai historis dan peninggalan – peninggalan bersejarah. Mulai dari bangunan – bangunan kuno, bukti – bukti tertulis berupa kitab – kitab kuno dan lain sebagainya. Khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lombok Timur terdapat berbagai macampeninggalan sejarah baik berupa situs, bangunan, tulisan dan lainnya. Seperti di Labuhan Haji, Selaparang, Tanjung Ringgit, Sugian dan banyak lagi lokasi lain yang belum diketahui nilai historisnya. Akan tetapi timbul berbagai masalah dalam pelestarian dan perawatannya. Mulai dari kesadaran masyarakat yang kurang berpartisipasi dalam merawat peninggalan sejarah dan juga faktor alam yang mengakibatkan korosi pada bagian situs.

Alasan kami memilih objek penelitian di Tanjung Ringgit karena dahulu lokasi tersebut sempat digunakan oleh Jepang sebagai tempat pemantau serangan sekaligus mobilisasi pasukan. Jika dilihat dari peta eloktronik Wilayah Tanjung Ringgit berada pada 116°34’0 detik BT - 8°53’2 detik LS. Jika kita melihat dari segi geo strategis tempat ini sangatlah cocok untuk menghalau serangan musuh yang datang dari sekutu khususnya  Australia. Sehingga banyak kita temukan sampai sekarang sisa–sisa bangunan dan peralatan Jepang seperti Meriam sebagai persenjataan berat yang digunakam untuk mengahalau serangan musuh, parit–parit sebagai tempat persembunyian sekaligus  pengintaian, Gua, perkantoran bawah tanah dan lain-lain. Hal inilah yang menjadi tujuan kami dalam mengkaji lebih jauh tentang keberadaan benda–benda bersejarah guna melihat sejauh mana fungsi .

Keadaan alam di sekitar situs meriam berada pada daerah ketinggian dan langsung berhadapan dengan pantai. Terlihat juga tanah disekelilingnya sebagian besar berbentuk kapur dengan intensitas hujan yang sangat kurang atau bisa dikatakan termasuk daerah kering.

Jika kita melihat kondisi fisiknya sebagian besar sudah rusak parah bahkan ada yang hanya menyiskan puing – puing bangunan saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi pertama yaitu faktor ekonomi. Karena alam Tanjung Ringgit yang dipenuhi oleh batu kapur membuat masyarakat sekitar melakukan penggalian di sekitar areal kawasan. Apalagi setelah diketahui bahwa kualitas batu kapur di wilayah ini adalah kualitas nomer satu. Ditambah dengan kondisi perekonomian saat ini yang tidak menentu menyebabkan segala cara dan upaya dilakukan guna menghidupi kebutuhan hidupnya sehari-hari yakni dengan melakuakan penggalian material kapur sehingga tidak jarang menimbulkan longsoran di lorong gua.

Faktor kedua yaitu faktor alam. Kurang terawatnya peninggalan – peninggalan ini membuat benda kuno seperti meriam terjadi pengakaratan atau korosi. Bahkan perlengkapan atau asesoris seperti baut, mur dan lainnya sudah lapuk akibat cuaca yang tidak menentu. Namun kini pemerintah Kabupaten telah melakukan pembenahan mulai dari pemugaran kantor, perbaikan di sekitar situs meriam, perawatan gua, perbaikan sarana dan prasarana menuju lokasi dan lain-lain.

  1. Meriam

Meriam adalah salah satu senjata yang dikategorikan senjata berat yang digunakan sebagai alat perang. Khususnya meriam yang terdapat di Tanjung Ringgit, peralatan ini dipakai untuk menyerang musuh yang datang dari sekitar pantai. Sehingga jika kita perhatikan sekarang meriam tersebut menghadap utara ke selatan dan langsung berhadapan dengan pantai.

Akan tetapi sekarang keaslian meriam sudah tidak bisa ditemukan lagi karena telah terjadi pemotongan pada bagian ujung meriam sehingga kami tidak bisa mengetahui ukuran panjang asli dari benda tersebut. Selain itu banyak dari bagian situs yang sudah hilang karena tidak terawat dan faktor kejahilan manusia seperti baut, mur, bagian samping meriam dan lainnya.

Jika kita menilai deri segi strategis, penempatan senjata ini sangatlah cocok karena seperti yang dikatakan sebelumnya tepatnya berada di ketinggian dan langsung berhadapan dengan pentai sehingga mudah mengahalau musuh yang mengadakan pergerakan disekitar pantai. Selain jarak dengan lubang amunisi yang tidak terlalu jauh dari meriam sehingga proses pengisian ulang peluru lebih mudah. Lubang amunisi ini berada di bagian belakang meriam dan samping kanan meriam, yang kini kedua lubang amunisi ini sudah tertutup oleh longsoran tanah.

Meriam yang masih bisa ditemukan sekarang hanya satu buah dan yang lainnya lagi hanya meninggalkan pondasinya saja. Adapun ukuran yang kami dapatkan pada benda ini yakni memiliki panjang 472 cm, diameter lingkaran bawah 150 cm, diameter lingkaran atas 92 cm, lubang tempat menaruh peluru panjangnya 40 cm dan lebar 24 cm. Perisai meriam mengahadap ke arah utara ke selatan. Anak meriam yang berada di samping induk meriam memiliki panjang 156 cm. Diameter penopang meriam 123 cm dan diameter pondasi meriam 226 cm.

Selain itu terdapat lubang amunisi yang terdapat di belakang dan samping kanan gua yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 175 cm, tinggi 140 cm. Jarak meriam dengan lubang amunisi pertama yaitu 267 cm dan dengan lubang amunisi kedua yaitu 460 cm. Sedangkan jarak dari lubang amunisi satu dan kedua adalah 633 cm. Dibagian selatan dari meriam terdapat bangker. Dan memiliki dua lubang dengan ukuran sebagai berikut : panjang 135 cm, lebar 172 cm dan tinggi 160 cm.

Dibagian bangker terdapat parit yang berkelok – kelok dengan panjang keseluruhan 14925 cm, lebarnya 180 cm dan parit kedua yang ada di bagian belakang meriam yang menuju bagian barat pantai memiliki panjang 15705 cm. Pada parit pertama terdapat tempat persembunyian dan memiliki dua lubang. Lubang pertama memiliki lebar 74 cm dan panjang 75 cm serta lubang kedua dengan lebar 160 cm dan panjang 2.30 cm. Jarak dari lubang satu ke lubang dua yaitu 614 cm.

  1. Bangker dan parit pengintaian

Bangker merupakan suatu bangunan yang sengaja dibuat sebagai tempat untuk mengatur strategi perang. Jarak antara bangker dengan meriam yaitu 53.46 cm. Di bagian bangker ini juga terdapat sebuah meriam, akan tetapi sudah rudah rusak sehingga yang tersisa hanya pondasi dasar meriam saja yang kini telah dipindahkan ke utara bangker. Di Bangker ini terdapat dua ruangan / lubang yang terbuat dari semen dengan lebar = 1.72 cm, panjang=1.60 cm, dan tinggi=1.35 cm.

 

Baca Juga :


  1. Gua

Gua pada umumnya dijadikan sebagai tempat persembunyian sekaligus perlindungan dari musuh. Gua ini berbentuk seperti lorong setengah lingkaran dengan dinding keras berbentuk batu berkapur yang dahulu dibuat oleh para Romusha dengan menggunakan linggis atau alat lainnya. Romusha adalah para pekerja yang sengaja dijadikan sebagai babu dalam memenuhi kebutuhan Jepang pada saat itu. Salah satu kebutuhan Jepang yaitu gua. Hingga jika kita menarik hipotesis berapa banyak korban yang bergelimpangan dalam kegiatan tersebut.

Dilihat dari bentuk gua yang bervariasi yaitu dari segi ukuran, panjang, diameter dan lainnya, akan tetapi terdapat kesamaan antara gua – gua tersebut yaitu terdapatnya parit pertahanan. Parit pertahanan dibuat dari tumpukan batu yang dibentuk sedemikian rupa dan membujur dari kanan sampai kiri mulut gua. Parit ini dibangun guna menahan serangan musuh sekaligus dijadikan sebagai tempat mengintai musuh.

Gua pertama dengan panjang mencapai 2430 memiliki satu anak cabang buntu, dan terdapat pula jalan rahasia ke tempat penyimpanan senjata. Dari sekian banyak gua yang tersebar di wilayah Tangsi, ditemukan masih banyak yang belum jadi. Diperkirakan hal itu terjadi karena Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Sehingga seiring berjalannya waktu para penjajah sedikit demi sedikit meninggalkan wilayah Indonesia. Sehingga proyek yang sedang dalam tahap pengerjaaan kemudian ditinggalkan begitu saja. Seperti dekat Gua pertama yang dibagian akhir gua terdapat jorokan ke dalam yang buntu dan tidak jauh dari arah barat gua terdapat juga gua yang buntu. Diperkirakan sebenarnya jorokan gua pertama akan menembus gua yang ada di dekatnya bagian sebelah barat. Di bagian barat gua pertama juga terdapat gua buntu yang jika direkonstruksi lebih lanjut akan berhubungan dan membentuk seperti hurup W.

Kondisi gua yang gelap dan tidak terawat menyebabkan terjadinya longsor di beberapa cabang gua. Tidak di elakkan lagi keadaan ini dijadikan sebagai tempat habitat kelelawar yang menempel di bagian langit-langit gua, bahkan tidak jarang binatang buas pun bertempat tinggal di dalam gua seperti ular, dan bintang buas lainnya.

Gua Kedua yang terdiri dari tiga lubang yang hampir menyerupai bentuk hurup W. Lubang pertama memiliki panjang 280 cm dan tembus ke barat gua kedua dengan panjang 1030. Jarak dari lubang ke dua dengan tembusan lubang pertama yaitu 425cm dan lubang ketiga yang masih buntu memiliki panjang 860 cm. Di gua kedua ini terdapat parit pertahanan dan memiliki dua buah pintu masuk dengan panjang 2417 cm. Gua ketiga dengan panjang 1570 cm dengan panjang parit pertahanan 1900 cm. Gua keempat berbentuk hurup U dengan panjang 2880 cm dan memiliki parit pertahanan dengan panjang 2500 cm.

  1. Bak penampungan air

Bak ini digunakan sebagai wadah untukpengumpulan air. Hal ini dilakukan karena daerah Tanjung Ringgit ini merupakan daerah dengan topografi yang kering, gersang, tandus. Sehingga satu-satunya yang dijadikan sebagai sumber penghidupan khususnya berkaitan dengan air hanyalah mengandalkan pada faktor musiman saja yaitu musim penghujan. Intensitas hujan yang rendah memaksa pendudukan Jepang di Tanjung ringgit membuat suatu penampung air sehingga mempermudah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bak penampungan air ini memiliki ukuran 380x573 cm dengan kedalaman mencapai 178 cm dan mempunyai dua bilik / ruang. Penempatan bak ini tidak terlalu jauh dari gua dan perkantoran bawah tanah yang berada di sekitar lokasi.

  1. Kantor bawah tanah

Kantor dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para petinggi Jepang dan biasanya digunakan sebagai tempat mengatur taktik atau strategi. Kantor buatan Jepang ini memiliki keunikan dari kantor-kantor lain karena bangunannya berada di bawah tanah. Menurut salah seorang yang tinggal disana mengatakan bahwa sebelum memasuki dalam kantor, kita harus melewati beberapa anak tangga kemudian menemukan dua buah pintu masuk. Di dalam kantor terdapat 12 buah anak kursi yang di buat secara permanen dari semen dan posisinya saling berhadapan, enam bauh kursi di utara dan enam buah kursi di selatan. Akan tetapi kini kita hanya bisa melihat reruntuhannya saja karena setelah indonesia merdeka warga masyarakat mengadakan penjarahansenjata – senjata Jepang bahkan merusak bangunan – bangunan Jepang. Sehingga kini yang tertinggal hanya puing – puingnya saja.

Dari pengertian tersebut saya bisa mempresentasikan bahwa Jepang pertama kali mendarat di Ampenan, kemudian Labuhan  Haji dan Labuhan Lombok. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menguasai terlebih dahulu pusat-pusat perekonomian yang pada saat itu berada di  Ampenan, Labuan Lombok, dan Labuhan Haji.

Setelah Jepang menguasai ketiga pusat perekonomian tersebut, barulah kemudian Jepang mendarat di Tanjung Ringgit pada tahun 1942. Pada saat itulah Jepang mendirikan sebuah benteng pertahanan, satu di sebelah utara yaitu untuk mengatasi pergerakan musuh yang datang dari Labuhan Haji dan satunya lagi di sebelah selatan yaitu untuk memobilisasi musuh yang datang dari Ampenan.

       Adapun lorong-lorong gua yag di buat di daerah Tangsi tersebut dijadikan sebagai tempat pertahanan. Karena tempat ini dikelilingi oleh bukit-bukit, jadi aman untuk tempat persembunyian. () -01



 
KM Masbagik

KM Masbagik

Nama: Andre Kurniawan, S. Pd. TTL: Kesik, 01 April 1990. Alamat: Desa Kesik Kecamatan Masbagik. Pekerjaan: Swasta. No. HP: 082340354845. Email: Andrejail17@yahoo.com.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan