logoblog

Cari

Tutup Iklan

Petilasan Majapahit di Dusun Bawak Nao

Petilasan Majapahit di Dusun Bawak Nao

KM. Sajang Bawak Nao _ Di Dusun Bawak NAo Desa Sajang Kecamatan Sembalun LOTIM NTB, memiliki satu bukit yang dikenal dengan

Wisata Sejarah

KM. Sajang Bawak Nao
Oleh KM. Sajang Bawak Nao
16 November, 2016 10:36:13
Wisata Sejarah
Komentar: 0
Dibaca: 44581 Kali

KM. Sajang Bawak Nao _ Di Dusun Bawak NAo Desa Sajang Kecamatan Sembalun LOTIM NTB, memiliki satu bukit yang dikenal dengan nama Bukit nunggal, dinamakan dengan bukit nunggal karena disana terdapat satu makam yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan “Kubur Nunggal”.

Kubur nunggal namanya, karena di bukit ini Cuma ada satu pekuburan tanpa ada duanya yang ada di atas bukit tersebut, tepatnya atas timur bukit. Dimana kubur nunggal ini sering digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat sukuran, di bukit nunggal ini dulunya bagi anak kecil yang baru di akikah akan di bawa kesini untuk di mandikan dan di doakan oleh kiai supaya menjadi anak yang baik.

Sebagian masyarakat mengatakan bahwah kubur nunggal ini bukanlah makam, akan tetapi itu sebuah patilasan majapahit atau jejak kaki raja majapahit yang dijadikan makam, karena disembalun juga terdapat patilasan majapahit yang dikenal dengan Makam Batu Delpak Desa Belek Sembalun Lawang.

Menurut BADAN REGISTRASI WILAYAH ADAT Sajang berasal dari Nama Sajen Yang berarti Pemberian, maksud pemberian itu adalah pemberian dari yang maha kuasa, asal awal komunitas mendiami wilayah adat sajang berawal dari abad 13 paska meletusnya Gunung Samalas atau Rinjani saat ini, Masyarakat Adat Sajang berasal dari Persia yang paska berlayar berlabuh di pelabuhan Labuan Cari yang sekarang dan mereka mencari lahan bertani yang subur sehingga mereka terdampar di bawah kaki gunung rinjani, awalnya mereka hidup secara keyakinan Animisme dan sekitar abad ke 14 waktu islam pertama masuk di wilayah paer daya bernama Syeh Abdul Rajak yang akan menyebarkan islam yang berasal dari Bahdat, karena masyarakat sajang menghargai pendatang sehingga ilmu keislaman mereka terima dan mereka aplikasikan dengan keyakinan sebelumnya dan di beri nama Selem Wet tu Telu. dan dalam sistem pemerintahaan adatnya mereka menggunakan 3 sistem pemerintahan antara lain :

Pemangku Merupakan Pimpinan adat yang berurusan dengan Hutan dan alam, Pemekel yang berurusan tentang pemerintahan adat serta Penghulu yang berurusan tentang pelayanan agama masyarakat itu berlangsung sampai sekarang.

Pembagian lahan menurut Adat, Lahan individu dibagikan secara merata oleh Tetua Adat di masing hamparan yang di sebut montong atau lendang, seperti : lendang jariango, lendang dalem re, montong pemanto, montong bebongkot, montong tempos, montong lekok buak, montong batu payung, montong selak golong, montong kayangan, montong nusa, montong sempade, lendang tinggi.

Sedangkan lahan komunal ditetapkan hamparan-hamparan yang ada di situs-situs adat/leluhur, seperti montong kayangan, montong bebongkot, yang kini diambil oleh taman nasional dan kubur nunggal, jelateng pahpah. 

Sistem Penguasaan dan pengelolaan wilayah, Dalam Penguasaan Lahan menurut pembagian tersebut di bagi menjadi beberapa bagian antara lain :

 

Baca Juga :


  1. Lahan Komunal : Lahan yang di miliki oleh seluruh anggota komunitas dan tidak boleh di perjual belikan
  2. Lahan Adat : Lahan yang diperuntukkan untuk kebutuhan adat seperti lahan untuk pecatu pranata adat dan lahan khusus buat ritual
  3. Lahan Keluarga : Lahan yang diberikan kepada kelompok keluarga masing masing yang masih dioper alihkan oleh kelompok keluarga tersebut.
  4. Lahan Pribadi : lahan yang di miliki pribadi kelapa keluarga yang di oleh pihak luar atau pihak masyarakat sendiri yang bersertifikat. 

Aturan adat terkait pengelolaan Sumber daya alam, Ritual Turun Bibit, sebuah pengelolaan di bidang pertanian yang lakukan sebelum masyarakat turun melakukan penanaman Padi atau menurunkan bibit pada bulan dan hari tertentu sesuatu hitungan kalender adat dan setelah dilakukan ritual adat Kalau ada yang melanggar maka dia akan di denda adat.

Ritual Meramo : Sebelum mengambil pohon kayu didalam hutan untukpembangunan bangunan bangunan adat makan di car/hutani waktu berdasarkan petunjuk lewat ritual selanjutnya Emban gawar mengecek kayu mana yang cocok dan di Jambek atau di minta ijin untuk dilakukan penebangan setelah mendapat waktu yang ditentukan baru masyarakat masuk kehutan di pimpin Pemangku dan Emban Gawar/Hutan yang diikuti oleh amak peramo untuk memotong pohan tersebut. 

Aturan Adaat terkait pranata Sosial,

  1. Hukum tata susila (norma susila), bila seseorang wanita dan laki-laki ditemukan melakukan/melanggar norma maka harus dinikahkan, tetapi bila
    laki-laki dan wanitanya “salak basa” maka harus diarak/digiring keliling kampung dan dikalungi kukusan digiring ke kubangan kerbau dan direndam sambil di tombak pakai pelepah pisang.
  2. Hukum tobat, hukum ini diberikan pada orang/pencuri yang telah berulang-ulang kali berbuat, maka dihukum tobat dengan cara dilumpuhkan, yaitu kakinya yang dilumpuhkan/tulang keringnya dipatahkan/dipecahkan.
  3. Hukuman makan (diberikan bila tidak terlalu berat, yaitu si pelaku disuruh memakan apa yang dicurinya mentah-mentah atau disuapi tai anjing atau digebukin ramai-ramai). 

Contoh Keputusan dari penerapan Hukum Adat, Pernah terjadi perkawinan salak basa (orang yang nikah keluarga deket dan dianggap tidak boleh menikah), hukumannya adalah dimusyawarahkan Adat yang dipimpin oleh Pengulu, Pemangku, dan Pembekel untuk meberikan hukum adat di pisahkan kalau mereka tidak mau di pisah maka akan di kenakan denda Adat sebesar 4900 Kepeng Bolong dan 1 buah Kambing serta harus keluar dari wilayah adat Sajang karena di Anggap Bero atau menimbulkan Aib Bagi Masyarakat Adat Sajang. [] - 05

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan