logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pohon Kenari, Simbol Kolonial Belanda Di Mataram

Pohon Kenari, Simbol Kolonial Belanda Di Mataram

Segelas susu coklat di atas meja kayu tertutup rapat. Sepasang pisang goreng terbaring di sebuah piring kecil. Menu yang cukup sederhana

Wisata Sejarah

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
06 Desember, 2016 21:02:32
Wisata Sejarah
Komentar: 0
Dibaca: 9264 Kali

Segelas susu coklat di atas meja kayu tertutup rapat. Sepasang pisang goreng terbaring di sebuah piring kecil. Menu yang cukup sederhana ini merupakan opsi saya ketika mampir di warung Bibi Atun yang terletak di pinggir jalan Langko  Mataram. Tepatnya di depan kantor Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Barat. Tempat ini cukup strategis, terutama bagi pengendara lewat atau pejalan kaki yang ingin beristirahat sambil menikmati kopi buatan Bi Atun. Apalagi di sekitar tempat ini terdapat beberapa pohon kenari yang tumbuh rindang, dan konon katanya ditanam pada zaman penjajahan Belanda.

Bibi Atun sudah menjadi langganan warung saya semenjak saya tinggal di Kota Mataram. Dulunya saya tinggal di Lombok Timur, tapi karena persoalan pindah kerja membuat saya memilh hidup di Kota Mataram, namun hingga kini saya masih tetap bolak-balik ke Lombok Timur karena masih dipercaya mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta.

Seperti biasanya, tatkala cuaca di waktu pagi bersahabat, saya sengaja jalan kaki dari tempat tinggal saya ke jalan Langko. Saya senang di kawasan jalan ini. Saya dapat menikmati udara segar dan pancaran sinar matahari pagi yang lembut semabari menyusuri trotoar yang tiap paginya dirapikan oleh petugas kebersihan dari Pemkot Kota Mataram. Jelasnya, di sepanjang jalan ini nampak rapi dan bersih. Hanya sesekali buah kenari yang sudah tua menjatuhkan diri di ruas jalan atau di sekitar pohonnya.

Oh iyya, di sepanjang jalan langko kita dapat melihat barisan pohon kenari  yang tumbuh hijau dan mengapit pada ruas jalan. Lalu Kertawan adalah suami Bibi Atun bercerita kalau pohon-pohon kenari itu ditanamn pada saat dibangunnya jalan Langko dan jalan lainnya yang ada di Kota Mataram. Pohon pohon itu pun telah memiliki usia yang tua, yaitu berkisar lebih seratus tahun dan banyak tumbuh di jantung Kota Mataram. Pohon kenari yang batangnya nampak besar dan tua itu ditanam pada masa kolonial Belanda Di Indonesia, termasuk di Mataram sendiri.

Kicauan burung-burung yang merdu menambah ketenangan hati di saat saya mulai menjamah menu sarapan pagi di atas meja yang terletak pada sisi kiri warung Bibi Atun. Saya sengaja memilih tempat duduk di alam terbuka, atau tempat yang telah disiapkan oleh Bibi Atun di tepi jalan. Tujuan saya agar dapat memandang serpihan keindahan jalan Langko sembari lepas pandang pada berbagai pohon kenari yang tumbuh hijau di tepi jalan. Sekali-kali saya pun mengarahkan pandangan pada kendaraan yang melintas dengan kecepatan yang berbeda. Ataupun terkadang saya konsentrasi mendengarkan kicauan burung-burung yang merdu di atas pohon kenari.

Sembari meneguk susu coklat buatan Bibi Atun, saya teringat situasi Kota Bogor. Pada Kota Bogor juga banyak pohon kenari yang batangnya besar dan sudah tua. Pohon kenari di Bogor memang juga kelihatan unik dan langkah. Kata orang-orang di sana bahwa pohon kenari yang ada di Bogor ditanam pada zaman kolonial Belanda. Persis sekal dengan pohon kenari yang ada di jalan Langko Mataram.

“Pernah ada turis Belanda yang datang memeluk pohon kenari di jalan Langko ini. Turis itu memeluk pohon itu seperti tidak mau melepaskan pelukannya. Ia berteriak sambil mengeluarkan air mata, “ kata Lalu Kertawan disaat datang duduk di samping saya. “Menurut orang sekitar bahwa orang Belanda yang tempo hari datang memeluk pohon kenari itu mengaku kalau pohon tua itu ditanam oleh moyangnya dulu di zaman kolonial Belanda,”kata Lalu Kertawan dengan nada suara yang serius.

“Mungkin mengenang moyangnya dulu sehigga ketika bertemu dengan pohon kenari yang anggapannya ditanam oleh moyangnya di zaman dulu, ia pun memeluknya   dengan erat dengan tujuan melepas rindu pada moyangnya,”desis saya dalam hati.

“Pohon-pohon tua seperti pohon kenari sangat dilindungi oleh phak pemerintah setempat,”kata Lalu Kertawan yang kesehariannya menemani isteri menjual di pinggir jalan Langko.

 

Baca Juga :


“Memang harusnya seperti itu pak. Karena pohon tua itu, selain menjadi paru-paru kota, juga memiliki nilai sejarah. Nilai sejarahnya adalah karena pohon itu ditanam pada zaman kolonial Belanda berarti suatu bukti sejarah kalau orang Belanda pernah menjajah di bangsa Indonesia, termasuk memasuki wilayah Kota Mataram. Jadi pohon tua itu sebagai simbol masa lalu, yaitu simbol masa di zaman kolonial Belanda. Jadi bagi saya pohon tua itu jangan ditebang. Dan kalau perlu menjadi icon wisata sejarah,” penjelasan saya pada Lalu Kertawan dengan sedikit ilmiah.

Lalu kertawan yang juga merupakn pensiunan pegawai negeri dari Universitas Mataram (Unram) menuturkan bahwa pohon-pohon tua seperti pohon kenari yang ada di pinggir jalan Langko memang telah dilestarikan. Sekitar 25 tahun lalu, mahasiswa UNRAM pernah melakukan pembaharuan, yaitu dengan melakukan penanaman kembali pohon kenari dan jenis pohon lainnya di sepanjang jalan Langko dan jalan lainnya. Mereka menanam pohon pada sela-sela pohon kenari, atau di tempat pohon kenari yang sudah tumbang. 

Menurut Lalu Kertawan pohon pohon kenari yag ada di jalan Langko dan jalan lainnya benar-benar terpelihara. Pihak petugas pertamanan kota sering melakukan pemeriksaan pada pohon-pohon yang tumbuh d pinggir jalan. Mereka terkadang melakukan pemangkasan pada bagian ranting pohon. Terkadang pun dilakukan penanaman kembali pada sela-sela pohon tua yang sudah mulai rusak.

Pohon kenari yang tumbuh hijau di sepanjang jalan Langko dan kawasan lainnya juga sangat bermanfaat bagi warga sekitar. Manfaatnya adalah karena biji kenari itu enak untuk dimakan. Tentu kita sudah paham kalau banyaknya ibu-ibu rumah tangga yang senang menjadikan biji kenari sebagai campuran bahan pada pembuatan kue. Olehnya itu, tak heran jika usai sholat subuh banyak warga sekitar yang ditemukan di sekitar jalan Langko memungut buah kenari. Namun rata-rata mereka menjadikannya sebagai salah satu sumber keuangan. Bahkan salah seorang mahasiswa IAIN Matarampun ikut aktf untuk mengais rezeki lewat buah kenari yang berjatuhan di sepanjang jalan Langko. Ia pun selalu datang ketika musim kenari berjatuhan telah datang. Setiap sholat subuh, ia pun rajin mengumpulkan buah kenari di kawasan Langko yang lalu dijual di tempat pedagang kenari yang ada di Kota Mataram. Ya, itung-itung meringankan beban orang tua.  [] - 03

 

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan