logoblog

Cari

Tutup Iklan

Menyusuri Romantika Sejarah Tente

Menyusuri Romantika Sejarah Tente

Tente sebuah desa yang terletak di tengah kecamatan Woha, Kabupaten Bima, jarak tente dengan Kota Bima hanya 30 menit. Banyak kisah

Wisata Sejarah

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
27 Desember, 2017 16:28:14
Wisata Sejarah
Komentar: 0
Dibaca: 7187 Kali

Tente sebuah desa yang terletak di tengah kecamatan Woha, Kabupaten Bima, jarak tente dengan Kota Bima hanya 30 menit. Banyak kisah dan sejarah yang tercatat di Tente mulai dari era Kesultanan hingga era kemerdekaan 1945, dahulu Tente adalah sentral pemerintahan Kejenelian Woha yang terakhir dipimpin oleh seorang Jeneli bernama Idris Jafar. Serta menjadi saksi awal ikrar para pemuda Woha untuk mengangkat senjata dan sumpah darah untuk membela merah putih, menyusuri Tente membawa kembali kita akan nuansa berkibarnya bendera merah putih pertama kali di Bima yang menbangun spirit perjuangan para pemuda Woha khususnya.

Begitu tiba di Tente di Raba Kodo keramaian kendaraan menghiasi jalan raya lintas Tente Bima, dari kejauhan tampak kepala Garuda di kiri pertigaan pasar. Sayapun melaluinya dahulu yang rencananya akan saya singgah pada monument Garuda tersebut setelah pulang dari menyusuri Tente. Begitu memasuki terminal suara klakson bis dan truk hingga teriakan kornet memanggil penumpang untuk menaiki bis mereka menuju Parado.

Kondisi jalan Tente sedang diperbaiki, saya berencana untuk menyusuri rumah Thayib Abdullah terlebih dahulu. Jalan agak sunyi karena jarang kendaran lewat akibat di sebelah timur sudah ditutup, di sebelah kiri jalan pasar Tente tampak sebuah monument tua yang mirip dengan monument juang 45 di kelurahan Pane, Kota Bima. Kayaknya rumah Thayib Abdullah disini sahut saya dalam hati seperti foto dalam buku biografi beliau.

Rumah tersebut tampak usang dan tak terawat, didepan terdapat dua rombong bakso. saya mengetoknya dan salam, tiga orang keluar dari dalam dan saya bertanya apakah betul ini rumah Pak Thayib Abdullah Almarhum pejuang angkatan 45 dahulu tanya saya menggunakan bahasa Bima (ta ake uma pak Thayib Abdullah ta aba?) maaf kami tidak bisa bahasa Bima, jawab seorang, kemudian sayapun bertanya menggunakan bahasa Indonesia lalu keluar seorang paruh baya dengan celana pendek dan menayakan ada apa dengan logat jawa, setelah memperkenal diri serta maksud dan tujuan saya kepada bapak tersebut, diapun mempersilahkan untuk duduk di kursi plastik miliknya.

Rumah Thayib AbdullahNamanya Pak Gundori asal Jawa Timur, beliau datang di Tente untuk mencari nafkah dengan berjualan bakso di Tente. Rumah Thayib Abdullah yang beliau tempati sudah 8 tahun lamanya, dia bercerita bahwa ahli warisnya ada di Jakarta, disebelah bangunan yang dia tempati sudah di jual, dan yg di tempati tidak dijual kata ahli waris bahwa rumah ini adalah saksi perjuangan dan tak akan dijual, kata Pak Gundori.

Sayapun mulai membuka perbincangan pada Pak Gundori bahwa dahulu rumah ini adalah markas perjuangan para pejuang Bima dahulu, yang dihibahkan oleh Thayib Abdullah sebagai markas organisasi para pemuda yang tergabung dalam Angkatan Pemuda Indonesia atau disingkat API, kisah saya pada Pak Gundori.

Dahulu dinding-dinding tua ini adalah saksi berikrarnya para pemuda Woha untuk membela merah putih dengan taruhan nyawa dan menorah cap darah pada ikrar mereka. Hidup dan matinya dipertaruhkan untuk membela kemerdekaan bangsa Indonesia. Di rumah ini para pemuda pelopor perjuangan seperti Thayib Abdullah, Yaman Aman, Abubakar Abas, Saleh Bakry, dan Noer Husen dan lain-lain untuk merancang strategi perlawanan mereka terhadap penjajah.

 

Baca Juga :


Pada monument depan rumah tersebut, sudah tidak tampak lagi aura spirit perjuangan, disekitarnya tampak sisa-sisa sampah dan coretan serta dijadikan penyanggah tali jemuran. Dahulu monument ini ditutupi sampah, hanya batu di atas puncak monument yang tampak, akhirnya saya berinisiatif untuk membersihkannya, kisah Pak Gundori pada saya.

Dalam hati saya berkata “Riwayatmu Tente”, dahulu Tente adalah markas para pemuda pelopor, yang memotivasi rakyat Bima untuk tidak tunduk kepada penjajah, namun apalah daya Tente sekarang, monument yang diresmikan pemerintah tahun 1970 sebagai symbol perjuangan untuk inspirasi bangsa hanya dijadikan tempat pembuangan sampah, sedih rasanya mendengar kisah Pak Gundori tentang sampah yang menutupi monument juang tersebut.

Seusai dari rumah Thayib Abdullah saya berlanjut menyusuri Tente menuju Yaman Aman yang dimana merupakan rumah berkibarnya merah putih pertama kali di Bima, setelah menanyakan beberapa orang dimana alamat rumah tersebut akhirnya saya menemukannya tak jauh dari rumah Thayib Abdullah hanya berjarak kurang lebih 80 meter sebelah kantor Desa. Akhirnya sampai di rumah tersebut, sama seperti rumah tadi didepannya banyak terdapat rombong bakso yang parkir, mungkin tempatnya disewakan pada penjual bakso sahut saya dalam hati.

Setelah agak lama mengetuk pintu rumah kemudian keluar seorang perempuan membukakan pintu, saya bertanya apakah betul disini rumah Almarhum Yaman Aman? Iya betul, cumin anaknya lagi keluar kota ke Dompu, kata perempuan tersebut. Kemudian saya meminta ijin kepadanya untuk melihat dan foto rumahnya, saya membayangkan 72 tahun yang lalu tepatnya didepan rumah ini semua pemuda-pemudi Bima berdiri untuk mengibarkan dan memperkenalkan bendera merah putih pertama kali, yang menjadi motivasi mereka untuk berjuang membela tanah air ini. Saya tidak berlama-lama di rumah Yaman Aman karena perempuan tersebut tidak begitu tahu perjuangan informasi mengenai rumah dan pemiliknya, karena dia hanyalah seorang istri dari cucu Yaman Aman, katanya.

saya berlanjut menuju monument Desa Pelopor, pada monument ini kondisinya lumayan terawatt, karena pada samping kiri monument masih terdapat tangga, kemungkinan tangga untuk cat monument tersebut. Didalam monument terdapat tulisan diresmikan pada 2-9-1996 Bupati KDH TK II Bima H. Adihariyanto. Pada puncak monument terdapat burung garuda Pancasila yang menghadap kea rah selatan. Dengan terawatnya monument sebagai Desa Pelopor tersebut semoga menjadi inspirasi generasi sekarang untuk Tente dahulu dan Tente sekarang menjadi spirit perjuangan dan motivasi desa pelopor lainnya di Bima. []



 
Fahrurizki

Fahrurizki

Traveller Kampung, Writer Traveller , My Blog www.fahrurizki19.wordpress.com

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan