logoblog

Cari

Tutup Iklan

Monumen Kasi Pahu

Monumen Kasi Pahu

Minggu sore( 16 September 2018) saya berkunjung ke Asi Mbojo dan menatap dua tiang di di samping Lare Lare Istana Bima.

Wisata Sejarah

alan malingi
Oleh alan malingi
17 September, 2018 07:44:22
Wisata Sejarah
Komentar: 0
Dibaca: 4063 Kali

Minggu sore( 16 September 2018) saya berkunjung ke Asi Mbojo dan menatap dua tiang di di samping Lare Lare Istana Bima. Tiang ini cukup tinggi dan yang sebelah utara sudah patah diterpa angin beberapa tahun silam. Tiang ini kemudian dikenal dengan tiang kasi pahu karena kayunya berasal dari Jati Kasipahu di hutan Tololawi Wera saat itu.

Menatap tiang ini sepertinya ingin bercerita bahwa di masa lalu Bima memiliki angkatan laut yang kuat. Tiang ini adalah tiang kapal armada laut kesultanan Bima yang dikenal dengan Pabise. Tiang ini adalah monumen bersejarah sebagai peringatan pembubaran angkatan laut Bima pada masa pemerintahan Sultan Abdullah bersama perdana menteri Muhammad Yakub Ma kapenta wadu antara tahun 1854 -1865. Tidak dapat dibayangkan dengan tingginya tiang ini, berapa ukuran kapal pinisi milik kesultanan Bima kala itu.

Alasan pembubaran armada laut ini cukup sederhana adalah agar jangan sampai diperalar untuk membantu Belanda dalam melawan para pelaut Makassar, Ternate dan Todore yang dianggap bajak laut oleh Belanda.. Padahal Pabise telah menjadi kekuatan dahsyat kerajaan dan kesultanan Bima selama empat abad lamanya sejak penaklukan wilayah wilayah timur oleh La Mbila Ma kapiri Solor pada abad ke 15.

Patut disayangkan juga bahwa Bima tdak memiliki bukti warisan kapal pinisinya, sehingga jejak kejayaan pabise hanya dititipkan lewat monumen kasi pahu dan catatan catatan tertulis baik dalam BO maupun catatan luar.

 

Baca Juga :


Kita memang tidak bisa menghakimi sejarah. Karena sejarah adalah masa lalu yang tak akan mungkin kita ketahui semuanya. Kita tidak mengetahui apa yang menjadi beban pemikiran sultan Abdullah dan Ruma Bicara Muhammad Yakub Ma Kapenta Wadu membubarkan Pabise selain dari alasan yang dikemukakan di atas. Sebagai kompensasi dari pembubaran Pabise, Sultan Abdullah memodernisasi angkatan bersenjata dengan membeli meriam dari Inggris.

Belanda berhasil memaksa kesultanan Bima untuk menjadi kerajaan agraris dan menggeser kedudukan Bima sebagai kerajaan maritim yang pernah berjaya di laut Flores dan sekitarnya. Belanda telah membaca kekuatan Pabise sejak Abdul Khair Sirajuddin, sultan Bima kedua yang mengacaukan eksistensi VOC sehingga melahirkan perjanjian Bungaya 1667 dan perang berkepanjangan di paruh abad ke 17. Semoga monumen ini terpelihara agar sejarah tidak akan hilang dalam pengetahuan anak cucu Dana Mbojo.



 
alan malingi

alan malingi

blogger dan penulis asal Bima-NTB. Kontak : 08123734986-0811390858. Kunjungi juga www.bimasumbawa.com dan www.alanmalingi.wordpress.com.Facebook, WA, Twitter dan Instagram Alan Malingi.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan