logoblog

Cari

Barapan Kerbau Tradisi Suka Cita Penuh Mistis

Barapan Kerbau Tradisi Suka Cita Penuh Mistis

Sejak dahulu petani di Sumbawa memiliki tradisi unik usai panen padi di lahan persawahan mereka. Sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil

Wisata Sejarah

EDY IRFAN
Oleh EDY IRFAN
17 September, 2019 16:28:12
Wisata Sejarah
Komentar: 0
Dibaca: 2261 Kali

Sejak dahulu petani di Sumbawa memiliki tradisi unik usai panen padi di lahan persawahan mereka. Sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil sawahnya, mereka melakukan Barapan Kebo (Balapana Kerbau). Barapan Kerbau dilakukan juga untuk menggemburkan tanah sawah yang akan ditanami padi. Disamping itu juga, tradisi ini merupakan ungkapan rasa suka cita, kegembiraan dan kebersamaan masyarakat setempat.

Istilah Barapan Kebo di Sumbawa memiliki istilah dibeberapa daerah di Indonesia. Di Madura dikenal dengan Kerapan Sapi, di Bima dikenal dengan nama Taji Sahe. Namun dibeberapa daerah seperti di Bima, tradisi ini mulai menghilang seiring dengan mulai bergantinya hewan sebagai alat menggarap sawah ke alat pertanian seperti tractor.

Barapan Kebo menjadi tradisi khas yang dimiliki masyarakat petani dan agraris di Sumbawa yang tetap dirawat. Baik itu Kabupaten Sumbawa maupun Kabupaten Sumbawa Barat. Barapan Kebo ini dilestarikan oleh suku yang berjuluk Tau Sabalong Samalewa (Samawa) menjadi sebuah event Barapan Kerbau atau Saka Buffalo Race Series World Championship sebagai magnet menarik wisatawan untuk berkunjung ke Sumbawa.

Barapan Kebo dikemas dengan sebuah Event yang memiliki nilai budaya dan nilai ekonomis bagi masyarakat setempat.  Kegiatan ini sangat khas dan otentik. Pemerintahpun akhirnya menetapkan Barapan Kebo menjadi sebuah wisata budaya yang cukup menarik untuk di tonton.

Lokasi dan arena Barapan Kebo ini, setiap pelombaan diadakan berpindah-pindah dan digilir di setiap desa. Kerbau yang dilombakan merupakan kerbau kuat dan tangguh yang telah dipelihara khusus dengan perawatan khusu pula oleh si pemilik kerbau yang akan ikut sebagai peserta dalam perlombaan itu.

Sepasang kerbau disatukan dengan kayu palang (Istilah Sumbawa :Noga) ditempelkan di pundak kerbau. Noga merupakan kayu yang dipasang di pundak 2 kerbau, sehingga dua kerbau jadi satu, lengkap dengan tali kekang di lehernya.

Kemudian tempat joki berdiri untuk mengendalikan sepasang kerbau tersebut dipasangkan kareng, yang terbuat dari kayu yang berbentuk persegi tempat joki berdiri dan memegang tali kendali. Dalam Barapan Kebo ini, beberapa pasang kerbau yang dilombakan harus  berlari dengan kencang sambal mencambuk kerbau sehingga bisa berlari kencang. Menyentuh sebuah kayu yang ditancap pada garis finis.  Bagi Joki, bermandikan lumpur dan jatuh ditanah berair dengan lumpu sekujur tubuh merupakan hal biasa dan mengasikan.

 

Baca Juga :


Untuk menancapkan Saka diperlukan ritual khusus. Ritualnya adalah Pasuk Sakaocu. Persinil yang menancapkan Saka pun harus seorang Sandro (Orang Pintar). Atau seorang ahli spiritual dengan kemampuan metafisika lebih. Melalui doa, Sandro harus melindungi seluruh peserta dari potensi negatif yang merugikan.

Kerbau pun diberi makan teratur 3 kali sehari dengan rumput segar. Setiap pekan diberi jamu khusus berupa, rempah, madu, dan telur ayam kampung. Jelang perlombaan, jamu ini juga diberikan. Memberikan relaksasi, konsep Raperis diberikan. Raperis adalah teknik spa bagi kerbau. Selain dipijit khusus, kerbau pacu dimandikan dengan air hangat. Lebih spesial, ada ramuan khusus yang diberikan. Komposisinya rauannya berupa rempah yang berupa aneka akar dan dedaunan. Agar semakin impresif, kerbau pun rutin melakukan latih tanding melalui simulasi balapan.

Pada rangkian kegiatan Festival Moyo di Sumbawa, Event Barapan Kerbau dilombakan sebagai salahsatu event yang diminati masyarakat pada Festival Moyo di Sumbawa.  Mengusung tema Barapan Kerbau atau Saka Buffalo Race Series World Championship 2019, diakui oleh  Hendri Sumarto ketua panitia Saka Buffalo Race Series, kental dengan nuansa mistis,  jelasnya di Sirkuit Sumer Payung, Karang Dima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (15/9-2019).

“Ada banyak ornamen dalam Saka Buffalo Race Series. Semuanya menjadi daya tarik utama bagi event tersebut. Keberadaan konten ini pun semakin menaikan daya tawar event secara menyeluruh. Kami optimistis, pergerakan wisatawan semakin positif. Selain race, wisatawan bisa mempelajari sisi lainnya,” kata Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Event ini memiliki pasar kuat mancanegara. Buktinya, rombongan wisman mau menunggu dan ikut terlibat di dalamnya. Hanya saja, slot khusus bagi wisatawan harus diberikan. Mereka bisa mencoba sensasi Saka Buffalo Race Series dengan memakai kerbau khusus dengan dipandu joki. (Edy-Dari Berbagai Sumber)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan