SUMUR MAJAPAHIT SITUS SEJARAH TERLUPAKAN

Lombok memang memiliki kekayaan historis yang cukup banyak, baik itu kekayaan historis dari zaman hindu-budha maupun zaman islam. Hanya saja banyak diantara situs sejarah yang menjadi kekayaan historis daerah kita terlupakan begitu saja. Hal ini terjadi karena situs-situs sejarah itu jarang sekali dilirik oleh publik dan rancunya informasi yang memadai tentang keberadaan situs-situs dimaksud.

Tidak adanya kesepakatan tentang nilai historis yang terkandung pada suatu situs sejarah dan budaya juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan publik kurang tertarik untuk mengetahui dan menjaga kekayaan historis itu. Sebenarnya di daerah kita masih banyak sekali situs peninggalan sejarah dan budaya lokal yang perlu dipublikasikan supaya masyarakat luas mengetahui tentang kesejarahan kita.

Di sisi lain Pemerintah Provinsi NTB juga pernah merancang suatu program yang cukup menarik untuk tetap dikembangkan. Program Wisata Budaya dan Wisata Religi, itu adalah program yang sangat bagus untuk memperkenalkan asset-aset sejarah budaya masyarakat Lombok. Hanya saja diperlukan pemetaan terhadap situs-situs sejarah dan budaya yang akan diperkenalkan tersebut. Tidak hanya situs yang sudah dikenal saja, melainkan situs yang belum dikenal publik juga cukup potensial untuk dijadikan sebagai asset bagi program itu. Untuk itu, lewat tulisan ini kami berharap kepada Pemda NTB dan pihak-pihak terkait supaya senantiasa mencari informasi tentang beberapa situs sejarah dan budaya yang belum terdaftar sebagai situs sejarah budaya Lombok yang resmi. Sebab dengan pementaan dan pendataan secara detail, maka kami yakin suatu saat daerah kita akan menjadi daerah wisata yang tidak kalah terkenal dengan pulau Bali.

Salah satu situs sejarah yang tidak begitu dikenal oleh publik adalah SUMUR MAJAPAHIT yang merupakan salah satu bukti sejarah Lombok pada zaman Hindu. Situs ini juga merupakan salah satu bukti bahwa Gajah Mada pernah melakukan ekpedisinya di bumi Lombok. SUMUR MAJAPAHIT merupakan peninggalan sejarah zaman penaklukan Majapahit terhadap kedatuan Bayan yang kini menjadi wilayah administrative Lombok Utara.

Konon, setelah Gahah Mada yang melakukan Ekpedisi Palapa-nya di bumi Bayan, kedatangan Gajah Mada beserta pasukannya diterima baik oleh Datu Bayan. Peristiwa itu yang kemudian membawa Kedatuan Bayan masuk sebagai salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Nusantara (Majapahit). Dikisahkan bahwa setelah beberapa lama di Lombok, Gajah Mada bersama 5 orang pengikutnya disertai 2 orang perwakilan dari Kedatuan Bayan melakukan perburuan di sekitar hutan Gunung Rinjani yang ada di wilayah Bayan.

Perburuannya dimulai dari Pawang Bangket Bayan menuju ke arah selatan. Berhari-hari mereka menjelajahi hutan untuk mencari buron/menjangan, hingga tibalah mereka di wilayah selatan Hutan Kerajaan Bayan (sekarang: wilayah Hutan Adat Desa Sambik Elen). Konon di hutan itu, Gajah Mada dan pengikutnya merasa kehausan, mereka terus menyusuri hutan untuk mencari sumber mata air. Namu, tidak satupun mata air yang mereka temukan di belantara itu. Ahirnya mereka beristirahat di atas batu cadas yang cukup lapang dengan pohon-pohon rindang yang berjejer di sekitarnya.

Menurut informasi yang diberikan oleh beberapa orang informan, secara tidak sadar Gajah Mada dan kelompoknya menancapkan tombak mereka pada batu cadas itu saat hendak beristirahat. Setelah beberapa saat mereka beristirahat dan menyandarkan badan pada pepohonan yang ada di sekitar batu cadas itu, dengan kebingungan Gajah Mada beranjak dari tempat bersandarnya sebab rasa dahaga yang dirasakannya begitu menyiksa. Gajah Mada kemudian mengajak pengikutnya untuk melanjutkan perjalanan. Dan ketika Ia mencabut tombaknya, terjadilah suatu keajaiban. Batu cadas tempat tadi Ia menacapkan tombaknya tiba-tiba pecah menyerupai Yoni (lambang kesuburan/kemaluan wanita dalam kepercayaan Hindu) dan dari sela-sela batu itu mengalir air yang sangat jernih.

Melihat batu itu mengeluarkan air, Gajah Mada dan para pengikitnya kemudian minum sepuasnya. Setelah itu, 5 orang pengikit Gajah Mada dan 2 orang perwakilan dari Kedatuan Bayan juga mencabut tombaknya yang telah lama tertancap dan hal yang sama juga terjadi dari bekas tancapan tombak mereka. Lubang bekas tancapan tombak mereka menyerupai sumur-sumur kecil yang berisi ari bersih. Dengan demikian di atas batu cadas itu telah muncul 8 titik mata air, dimana mata air yang paling besar adalah bekas tancapan tombak Gajah Mada. Melihat hal tersebut, kemudian Gajah Madan mengajak pengikutnya untuk bermalam di sana, sebelum kembali ke Kedatuan Bayan.

Konon, di tempat itu juga ditemukan perkakas kuda dan tombak yang diperkirakan merupakan perkakas kuda dan tombak dari salah satu anggota pemburu dari Majapaih dan hingga saat ini perkakas kuda dan tombak itu masih disimpan di rumah Amaq Acut (Amaq Lokak Batu Santek Bawaq Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan). Demikianlah segelumit sejarah kemunculan SUMUR MAJAPAHIT yang hingga saat ini masih dianggap mistis oleh warga setempat.

Sumur itu dikenal dengan sebutan SUMUR MAJAPAHIT sebab sumur-sumur kecil itu muncul karena kedatangan orangg-orang Majapahit sebagaimana cerita sejarah yang telah dipaparkan tadi. Di sekitar SUMUR MAJAPAHIT juga terdapat pondasi Masjid Kuno Batu Santek yang juga merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam sebagai rentetan dari keberadaan Masjid Kuno Bayan yang telah dikenal oleh halayak ramai.

Perlu juga diketahui bahwa SUMUR MAJAPAHIT sering dikunjungi oleh warga Desa Sambik Elen dan sekitarnya sebagai tempat berwisata dan ada juga yang mengunjungi tempat itu dengan tujuan lain, seperti mengambil air SUMUR MAJAPAHIT sebagai obat dan tidak jarang pula penganut Agama Hindu yang datang untuk melakukan pemujaan di tempat itu. Selain itu, masyarakat Desa Sambik Elen dan sekitarnya juga kerap kali mengunjungi tempat itu untuk menyampaikan suatu nazar dan apabila nazar mereka tercapai, maka mereka kembali ke SUMUR MAJAPAHIT untuk membayar nazar (sesangi: bahasa Sasak).

SUMUR MAJAPAHIT berada sekitar 4,5 km dari Kantor Desa Sambik Elen/Jalan Provinsi yang melintasi Desa Sambik Elen. Untuk mengunjungi SUMUR MAJAPAHIT, pengunjung bisa lewat pertigaan yang ada di sebelah timur Kantor Desa Sambik Elen dan bisa juga lewat pertigaan yang menuju Dusun Lenggorong Desa Sasmbik Elen Kecamatan Bayan. Hanya saja, pengunjung  akan lebih nyaman melakukan perjalanan jika masuk lewat pertigaan di sebelah timur Kantor Desa Sambik Elen sebab jika kita lewat sini maka kita akan melewati jalan desa yang sudah hotmik sampaik ke lokasi. Jika pengunjung datang dari Lombok Barat melalui Bayan, maka untuk menuju lokasi SUMUR MAJAPAHIT, pengunjung harus belok kanan di pertigaan yang ada di sebelah timur Desa Sambil Elen. Dan apabila pengunjung datang dari Lotim melalui Kokok Putik, maka di pertigaan tersebut pengunjung harus belok kiri dan berjalan menuju untuk melewati Dusun Sambik Elen.

Setelah sampai di Dusun Batu Santek Bawak, di sana akan ditemukan lagi sebuah pertigaan. Jika pengunjung datang dari Sambik Elen, maka pengunjung tinggal belok kanan masuk di perkampungan Batu Santek Bawak. Lokasi SUMUR MAJAPAHIT berada sekitar 500 meter dari pertigaan Batu Santek tersebut. Selain itu lokasi situs sejarah ini juga dekat dengan pemukiman warga sehingga pengunjung tidak perlu khawatir mengenai keamanan selama berada di situs tersebut. Perlu juga diketahui bahwa pengunjung dapat mendatangi lokasi ini dengan mengendarai sepeda motor atau mobil sebab akomodasi jalan menuju situs ini cukup mendukung/jalan hotmik.

Hutan yang cukup rindang, keunikan bentuk bangunan tradisional masyarakat Dusun Batu Santek, serta gaya hidup tradisional masyarakat setempat juga akan memberikan pengalaman wisata yang cukup menarik bagi para pengunjung. Hanya saja, di sekitar lokasi tidak terdapat tempat pembelanjaan dan Lokasi SUMUR MAJAPAHIT juga belum memiliki penjaga yang resmi sebab situs ini belum termasuk dalam situs sejarah yang resmi dan belum mendapat perlindungan Undang-Undang Cagar Budaya seperti Masjid Kuno Bayan dan beberapa tempat wisata sejarah di sekitar wilyah Bayan.

Semoga dengan informasi ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan Pemprov NTB dapat memberikan perhatian terhadap situs sejarah SUMUR MAJAPAHIT dan situs-situs sejarah budaya lainny yang belum dipublikasikan, kemudian dapat ditindak lanjuti dan diperomosikan sebagai salah satu khazanah wisata sejarah dan budaya gumi Lombok yang nantinya dapat dikelola dengan baik sebagai asset wisata yang dapat dijadikan sebagai salah satu sumber Pendapatan Daerah.

 

Jika ada kata-kata yang kurang berkenan, penulis Tunas Ampurayan.

Dan atas perhatian sanak senamian, Tiang Aturang Tampiasih.

 

_Asri, S. Pd_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru