Pantai Labuhan Haji Tempoe Doeloe

Pantai Labuhan Haji merupakan sebuah pantai yang terletak di kawasan pantai timur Lombok. Dari penuturan warga setempat yang ada di di Labuhan Haji bahwa  pantai ini dinamakan Pantai Labuhan Haji karena pada tempo doeloe di pantai ini terbangun sebuah pelabuhan yang ramai, yang mana menjadi tempat keberangkatan jamaah haji dari Pulau Lombok ke tanah suci, yaitu  Makkah Al-Mukarramah. Tentu hal ini pula yang dapat menyebabkan orang-orang di Lombok Timur lebih religius, yaitu seiring bolak-baliknya mereka dari tanah suci, sepertis para ulama (Tuan Guru), santri, maupun jamaah haji itu sendiri.

Keramaian Labuhan haji pada tempoe doeloe, juga difaktori oleh kedatangan  pedagang dari negeri China yang selalu berlabuh di Pelabuhan ini. Kedatangan mereka di wilayah tersebut tak lain adalah dengan suatu misi perdagangan. Hal inilah yang membuat warga pribumi menerimanya dengan baik, bahkan banyak yang menetap di wilayah tersebut. Sebagai bukti ditemukannya Makam China yang terletak di sekitar pantai ini, yaitu di Penedegandor. Selain itu, berbagai bekas bangunan tempat tinggal orang-orang China yang ditempati oleh penduduk pribumi, walaupun telah mengalami renovasi.

Hubungan emosional suku Tionghoa dengan warga pribumi cukup langgeng. Dari hubungan tersebut, suku Tionghoa banyak membantu warga pribumi dalam menjalin hubungan perekonomian, bahkan mempekerjakan warga pribumi di toko atau perusahaannya.

Di sisi lain, dalam jalinan kekerabatan yang yang tercipta antara suku Tionghoa dengan warga pribumi, tidaklah mengherankan jika kita menemukan sebuah rumah pribumi yang pada bagian depannya memiliki ukiran China. Bila ditelusuri lebih jauh, suku Tionghoa juga pada tempoe doeloe sempat melakukan kawin mawin dengan warga pribumi, atau perkawinan silang. Namun mereka pun masuk ke dalam agama Islam. Sampai sekarang keturunan atau hasil perkawinan antar suku tersebut masih banyak ditemukan di Labuhan Haji dan sekitarnya. Namun tetap saja mereka menganut kepercayaan ajaran Islam. Itulah sebabnya di wilayah Labuhan Haji dan sekitarnya sering kita menjumpai warga pribumi yang bentuk fisiknya menyerupai suku Tionghoa.

Bukti lain tentang keberadaan suku Tionghoa pada zaman dulu adalah sebuah dusun yang bernama dusun Kebon PKI terdapat di kelurahan Tanjung, kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur. Salah seorang yang pernah bekerja di Perusahaan Mobil BIDARA (Badan Usaha Milik Daerah ) Lombok Timur pada zaman PKI adalah H. Kamiluddin. Ia pun bekerja sebagai sopir di PT. BIDARA tersebut. Diakuinya kalau dirinyalah yang sempat mengangkut sejumlah tawanan PKI dari penjara untuk dibawa ke sebuah kebun. Di dalam kebun itu telah digali lubang besar sebagai tempat pembantaian komunis, atau PKI pada tahun 1965. Itulah sebabnya kebun itu dinamakan kebun “Kebon” PKI. Menurut H. Kamiluddin, ada sekitar 40 orang yang dibantai oleh algojo-algojo. Ke empat puluh orang itu terdiri dari suku Tionghoa dan warga primbumi yang memang terdata sebagai anggota PKI. Namun lubang pembantaian itu ditutup tanah dengan rapat. Tapi karena tempat itu sudah sangat lama dan tidak pernah disentuh oleh penduduk, akhirnya ketika penduduk mengembangkan wilayah pemukiman, lubang pembantaian oleh GESTAPU/PKI pada tahun 1965 tidak ditanda lagi sehingga hilang oleh pemukiman. Namun tetap saja penduduk mengetahui bahwa di sekitar lokasi tersebut merupakan tempat pembantai PKI sehingga khusus di lokasi itu dikatakan dusun Kebon PKI.

Mengenai masalah matinya dermaga labuhan haji di tempoe doeloe adalah karena yang paling mendasari adalah terjadinya pendangkalan pada air laut yang ada di dermaga tersebut. Akibat terjadinya Pendangkalan ini sehingga para kapal  kapal tidak lagi bersandar di dermaga ini sehingga menghentikan siklus hidup Labuhan Haji.

Dalam kepercayaan suku Tionghoa, yang mana ketika mampu melihat buih ombak putih dari kejauhan, itu pertanda bahwa di sekitar buih putih tersebut akan terjadi musibah atau suatu kehancuran dalam hidup. Seorang warga Kelayu yang bertutur kepada penulis bahwa di depan masjid Al- Umari ada seorang Babah Tionghoa yang sempat melihat buih putih dari depan masjid ini, sehingga dia meramalkan bahwa pelabuhan labuhan haji tidak lama lagi akan sepi dan tidak berfungsi. Namun tidak lama kemudian ramalan atau kemampuan Feng Shui dari seorang Babah Tionghoa terbukti. Pendangkalan telah terjadi, dan berdampak pada melemahnya  kapal yang akan sandar di pelabuhan.

Faktor lain yang menyebabkan kematian Labuhan Haji juga disebabkan pembantaian etnis Tionghoa pada tahun 1965-an. Padahal orang-orang Tionghoa sangat berperan penting terhadap peningkatan ekonomi masyarakat Labuhan haji waktu itu. Beberapa kegiatan ekonomi dari orang-orang Tionghoa waktu itu adalah dengan membangun pabrik minyak kelapa, pabrik es, pabrik padi, perusahaan tembakau, yang mana di ekspor ke luar daerah, dan juga ke negara luar seperti di singapura, malaysia, china sendiri. Namun semuanya bubar seketika disaat terjandinya  pembantaian berdarah, yaitu pasa saat Gerakan Tiga Puluh September PKI/1965. Pada gerakan pembantaian tersebut ada banyak banyak orang-orang Tionghoa yang ditebas habis-habisan oleh para algojo. Pabrik-pabrik milik orang-orang Tionghoa dibakar, rumah-rumah mereka dijarah, sehingga Labuhan Haji menjadi sepi dan mati. Puing-puing bangunan  pabrik milik orang-orang Tionghoa yang berserakan masih nampak di sekitar  pantai Labuhan Haji. Begitu pun juga makam-makam suku Tionghoa banyak ditemui di pinggir jalan.

Kini pelabuhan di Labuhan Haji mati dan hanya menyisakan pantai yang kerap dikungjungi warga sekitar sebagai obyek wisata. Keramaian Pantai Labuhan Haji hanya terjadi pada sore hari, itu pun hanya diramaikan oleh para muda-mudi yang melakukan jalan-jalan sore. Kecuali pada  akhir pecan, yaitu selepas subuh banyak pengunjung datang untuk menanti matahari terbit dari atas permukaan laut sambil bermain di tepi laut. Namun kini kejayaan Labuhan Haji ingin dibangun kembali. Tampak dari rencana yang sudah dituangkan oleh Pemda Lombok Timur. Namun kendala di sana-sini membuat hingga kini pelabuhan itu tak kunjung bisa terealisasi. Tapi, walaupun pembangunan dermaga Labuhan Haji belum selesai, para pengunjung wisata pantai dapat mempergunakan dermaga ini untuk berjalan-jalan melewati badan jalan dermaga hingga ujung dermaga. Mereka dapat menikmati lpanorama laut yang terbentangluas di depan dermaga. [] - 05

  

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru