Desa Pejanggik Dengan Peninggalan dan Tradisi Budaya

Pernah kalian lihat lihat tentang sebuah desa yang masih menyimpan banyak peninggalan dan sebuah tradisi yang tidak bisa dihilangkan hingga saat ini. Tentunya setiap desa pasti memiliki peninggalan-peninggalan zaman kerajaan dulu yang hingga saat ini masih digunakan untuk tempat ibadah. Salah satu contoh yang kini saya ambil dan tulis dalam artikel ini adalah keunikan dari Desa pejanggik yang masih menyimpan peninggalan zaman kerajaan dulu, dan tradisi-tradisi nenek moyang yang masih sampai saat ini mereka lakukan setiap tahunnya.

Desa Pejanggik adalah salah satu Desa yang terletak di kecamatan praya tengah, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini sebagian besar penduduknya asli sasak. Desa Pejanggik ini memiliki keunikan dan keragaman dib bandingkan dengan Desa-desa lain. Dilihat dari peninggalan-peninggalan dan sebuah tradisi yang bisa dikatakan banyak.  Nah dari artikel yang saya akan tulis tentang apa saja yang membuat keunikannya. Ini adalah sejumlah beberapa peninggalan dan tradisi yang saya ketahui hingga saat ini. Mari simak baik-baik sahabat, supaya kita mendapatkan informasi.

1. Bale Beleq Desa Pejanggik

Beberapa bulan lalu saya menulis tentang sebuah peninggalan yang hingga saat ini masih berdiri kokoh di pedalaman Desa Pejanggik. Bale Beleq ini konon katanya merupakan bangunan sejak abad 15. Bangunan ini merupakan rumah raja sekaligus tempat ibadahnya. Di areal bangunan ini terdapat makam, berugak, sumber air bahkan dapur. Bale beleq ini juga masih dimanaatkan warga sebagai tempat mengaji setiap malam rabu.

Karena bale Beleq juga sudah tidak diragukan ke asliannya karena telah mengalami pemugaran. Warga setempat beranggapan bahwa bale beleq ini merupakan rumah datu pejanggik dan pemeliharaan benda-benda bersejarah, katanya sih seperti itu.

2. Makam Serewa

Membicarakan Desa Pejanggik tentu tidak akan lengkap dengan bukti-bukti fisik yang menegaskan bahwa desa Pejanggik sebagai warisan kerajaan pejanggik diantranya yaitu Makam Serewa ini. makam yang keberadaannya di pinggir jalan utama persis di tengah Desa. Dalam kompleks makam serewa terdapat sejumlah makam dan pusara didalamnya. Hanya satu makam yang berada didalam bangunan dengan dinding terbuka dan dilengkapi dengan kain putih. Ini menandakan bahwa makam tersebutlah yang menjadi objek kunjungan (makam serewa). Kompleks makam dikelilingi oleh puluhan pohon kamboja (jepun) yang sudah berumur tua.

Banyak versi tentang kerajaan pejanggik, tetapi, masyarakat sasak Lombok tengah percaya bahwa makam itu adalah makam raja pejanggik yang terakhir. Dan makam ini sering banyak pengunjung ketika usai hari raya idul fitri atau hari-hari besar islam lainnya.


3. Sumuran Emas

Bukan bale beleq dan makam yang menjadi peninggalan Desa Pejanggik, akan tapi ada salah satu tradisi ini akan menjadikan Desa ini dikenal. Iya salah satunya adalah sumur Emas ini. Sumur Emas yang masih digunakan. Sumuran emas ini terdapat di salah satu dusun kecil yaitu Dusun Toro.  Konon katanya setiap 5-6 tahun sekali asahan yang berwarna kuning emas ini akan keluar dari sumur dan di gunakan untuk mengasah benda-benda pusak. Tradisi ini berjalan dengan rangkaian upacara yang cermat.


4. Perang Timbung

Beralih ke tradisi Desa Pejanggik. Ada perang yang tanpa luka, pasti kalian berpikir, perang apa yang tanpa membuat luka. Ya inilah perang yang dinamakan perang timbung. Perang yang dilakukan dengan suka cita di Lombok Tengah. Perang yang di sakralkan oleh masyarakat Desa Pejanggik kecamatan Praya Tengah dengan penggunakan timbung (jajan lemang).

Ratusan laki-laki bertubuh tegap, jangkung, pendek, kurus, dan gendut berkumpul di luar atau di dalam area makam serewa. Bahkan, mereka tak ubahnya seperti prajurit yang siap berperang. Mereka mengenakan pakaian adat yang semakin menunjukkan keperkasaannya mereka ala bangsawan. Sementara kerumunan lelaki lainnya menggunakan pakaian hitam seperti kemban. Dan tak lupa mereka dilengkapi dengan bebar pinggang serta sapuk (ikat kepala). Sehingga membuat mereka tampak gagah perkasa bak prajurit betulan. Dan yang terpenting adalah para kumpulan lelaki dilengkapi dengan senjata yang berupa jajan timbung. Dan bila waktunya tiba, merka pun mulai bertempur satu sama lain.


5. Bejaranan

Bale beleq, makam serewa, sumuran emas, dan perang timbung. Tidak lengkap semuanya jika budaya tidak ada. Salah satu budaya yang hingga saat ini masih tetep di lestarikan yaitu Bejaranan ini.  bejaranan memang dari dulu masih bersifat sakral. Maksudnya selalu berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya gaib. Tontonan dahulu jaranan juga digunakan untuk upacara-upacara resmi yang berhungan dengan roh leluhur keraton. Seperti yang sudah dikatakan bejaranan sering dilakukan saat upacara resmi seperti sunatan.


Dari peninggalan, budaya, dan tradisi ini merupakan langkah awal untuk memperkenalkan Desa. Apalagi Desa yang memiliki banyak peninggalan, tentunya wisatawan akan berbondong-bondong untuk melihat langsung ke Desa itu. Budaya dan tradisi juga perlu untuk diperhatikan, karena tidak lengkap jika Desa tidak memiliki Budaya dan tradisi yang unik untuk di perlihatkan.

Semoga dari artikel ini kita bisa belajar, supaya lebih kita memperhatikan budaya dan tradisi agar tidak hilang. Harapannya adalah semoga lebih diperhatikan oleh pemerintah supaya perkembangannya semakin meningkat, dan lebih pentingnya adalah dipromosikannya Desa dan memperkenalkan ke Mancanegara. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru